<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=17399879&amp;blogName=Kenduri+Cinta&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http://kenduricinta.blogspot.com/search&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http://kenduricinta.blogspot.com/&amp;vt=-3205264124001618378" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

Thursday, October 27, 2005

[kenduricinta] Ketentraman : KESENGSARAAN BATHIN BANGSA INDONESIA



Untuk BERLANGGANAN, kirim e-mail kosong ke
kenduricinta-subscribe@yahoogroups.com
Untuk BERHENTI, kirim e-mail kosong ke
kenduricinta-unsubscribe@yahoogroups.com

Jika menginginkan semua informasi yang dikirim pada suatu hari
ke dalam satu e-mail sehingga hanya akan menerima satu e-mail
saja dalam sehari (berupa rangkuman dari beberapa e-mail),
maka silakan kirim E-mail kosong ke:
kenduricinta-digest@yahoogroups.com
Jika tidak ingin menerima sebuah e-mail pun,
tetapi masih bisa membaca langsung semua informasi yang terdapat
pada mailing list di http://groups.yahoo.com/group/kenduricinta
maka silakan kirim E-mail kosong ke:
kenduricinta-nomail@yahoogroups.com
Jika ingin kembali ke Individual Email (semua email yang dikirim
ke group akan didistribusikan langsung ke Anda) maka silakan
kirim E-mail kosong ke:
kenduricinta-normal@yahoogroups.com

Informasi: kenduricinta@padhangmbulan.com





Yahoo! Groups My Groups | kenduricinta Main Page




        KESENGSARAAN BATHIN BANGSA INDONESIA

      Ketika mengawali 'upacara' doa bersama di mana ia membacakan "Doa Mencabut
      Kutukan", sebagai refleksi balik dari "Doa Mohon Kutukan" lima tahun yang
      lalu, Cak Nun berkata dengan sangat bersungguh-sungguh - sangat berbeda
      dengan kebiasannya yang lentur dan penuh humor :
      "Apakah kita adalah orang sakit yang hatinya tenteram karena tidak
      mengerti penyakitnya? Ataukah kita memilih berusaha tahu penyakit-penyakit
      kita, lantas kita upayakan proses penyembuhan, agar dalam jangka panjang
      kita capai ketenteraman?"
      "Rakyat kita, ya kita semua ini, sangat bersedih hati dan benar-benar
      frustrasi berkepanjangan. Negara yang kita bela dan cintai, pemegang
      kekuasaan yang kita restui dan kita upah, sampaim sejauh ini masih gagal
      memenuhi amanat di pundaknya. Kita kecele berulangkali. Hidup kita tidak
      aman, makan minum kita tidak menentu, karena organisasi pemerintah tidak
      kunjung sanggup membangun jaminan untuk itu."
      "Apakah nyawa kita tidak tiba-tiba dicabut entah oleh siapa, negara tidak
      bisa memberi ketenangan kepada rakyatnya. Kalau besok siang karena suatu
      soal yang sangat sepele kita tiba-tiba terlibat dalam perang brubuh, tawur
      suku seperti jaman pra-sejarah, tak ada juga yang dilakukan oleh polisi
      dan tentara. Kekuatan polisi tak memadai, sementara tentara duduk-duduk
      saja karena kalau berdiri sedikit saja takut kena tudingan melanggar HAM.
      Ekonomi makro kita hanya menambah prestasi hutang dan degradasi
      kesejahteraan."

      "Satu-satunya keuntungan dari semua keadaan itu adalah bahwa kita menjadi
      lebih dekat kepada Tuhan. Kita menjadi malu untuk meneruskan
      ketidaktergantungan kepada-Nya. Tuhan kita angkat sebagai Kepala Negara
      kehidupan kita. Namun demikian kecemasan hati ini tak usai-usai juga. Yang
      membuat kita kurang nyenyak tidur adalah bahwa di negera yang nasional ini
      justru jumlah suku makin bertambah. Tidak hanya suku Dayak dan Madura.
      Tidak hanya suku Melayu dan Jawa. Tapi sekarang ada juga suku NU, suku
      Muhammadiyah, suku PKB, suku Poros Tengah, bahkan lebih terkeping-keping
      lagi konstelasi kesukuan masyarakat kita".
      "Penderitaan batin rakyat Indonesia sudah sedemikian rupa sehingga tidak
      lagi berwajah derita. Kadar derita itu demikian mendalam, mengakar,
      mengendap, sehingga hakekat penderitaan itu hampir sudah sama dan sebangun
      dengan seluruh eksistensi dan kesadaran kita akan hidup."
      "Ini semua bukan hanya penderitaan batin, tapi mungkin sudah lebih
      mendalam menjadi kesengsaraan spiritual. Subyek penderita dalam diri kita
      bukan hanya perasaan, bukan hanya hati, tapi mungkin kalbu. Kalbu itu jauh
      lebih tersembunyi dan menyimpan sejumlah rahasia yang kelak hanya bersedia
      dikuakkan oleh kejujuran, yang meningkat menjadi ketulusan dan memuncak
      pada kesucian."
      "Kesengsaraan kalbu terjadi karena salah satu dari dua hal. Pertama, Allah
      menimpakan ujian, yang solusinya adalah kenyataan bahwa iman jauh lebih
      kukuh dan perkasa disbanding segala jenis dan kadar penderitaan."
      "Kemungkinan kedua, kesengsaraan kalbu semacam itu dibangun oleh kebodohan
      kita sendiri. Tuan rumah yang sibuk mencuri di rumahnya sendiri adalah
      tuan rumah yang sebodoh-bodohnya. Bapak, Ibu, anak-anak, semua penghuni
      rumah, bertengkar terus, saling mengincar dan berebut giliran merusak
      rumah, berebut giliran memperoleh kesempatan untuk mencurangi."
      "Proses berebut giliran itu dihiasi dengan ilmu, teori, firman dan segala
      sesuatu yang bisa didayagunakan untuk kepentingan masing-masing. Negara
      ini kita rusak sendiri, menggunakan kebodohan yang tak habis-habisnya,
      atau memakai segala jenis kepandaian untuk bodoh."
      "Peta situasi batin dan kondisi sosial yang melatarbelakanginya harus
      perlahan-lahan kita pahami dan kita mengerti, agar nanti bisa kita mulai
      dari diri kita sendiri berkata'tidak' kepada kenyataankenyataan itu.
      Semakin banyak orang yang berkata tidak , maka pagi hari akan semakin
      cepat tiba. Matahari akan terbit, tetapi pada hakekatnya ia tidak pernah
      terbit untuk bangsa yang buta."[]
            dikutip dari buku Kitab Ketentraman Emha Ainun Nadjib, penerbit
            Zaituna dan Republika, 2001[ kembali ]


            PARA PASIEN MENGATUR DOKTER

      "Jangan bandingkan saya dengan orang istimewa macam Gus Dur, Pak Amien
      Rais, Bu Mega, Sri Suitan Hamengkubuwono X, atau para Ulama. Jangan
      lakukan pelecehan semacam itu", kata Cak Nun.
      "Tokoh-tokoh nasional kita menjadi panutan orang banyak karena punya bekal
      ilmu dan akhlak yang baik. Perilaku mereka tertata sedemikian rupa
      sehingga menjadi teladan banyak orang. Setiap ucapan dari mulut mereka
      dipertimbangkan secara matang, diperhitungkan manfaat dan mudaratnya; dan
      itulah yang menyebabkan mereka menjadi tokoh. Setiap langkah mereka
      diamati oleh jutaan mata, dan mereka sanggup memberi kenikmatan batin dan
      mengupayakan berbagai jenis kesejahteraan, sehingga mereka punya kelayakan
      untuk ditokohkan."
      "Sementara saya seorang pekerja biasa. Memang banyak orang mengerubungi
      saya untuk keperluan pribadi atau kelompok mereka. Tetapi banyak dari
      mereka yang datang untuk - sesungguhnya - menyuruh saya menuruti apa yang
      mereka inginkan. Jadi bukannya saya panutan, melaiinkan saya yang sering
      menganut mereka. Ibarat dokter, pasien-pasien saya datang untuk mengatur
      saya. Mereka ya pendapat sendiri mengenai penyakit mereka yang diperlukan
      dari saya adalah pembenaran atas pendapat itu. Bahkan seringkali mereka
      sendiri yang menentukan bagaimana cara menyembuhya serta apa obat yang
      harus diminumnya."
      "Kalau saya mengemukakan bahwa peridapat saya berbeda, apalagi sampai saya
      menyodorkan pil menurut teori saya sendiri, mereka bisa menuduh saya
      'tidak bisa dianut', 'egois', bahkan 'pengkhianat'. Yang disebut 'massa'
      itu yang mengatur dan mengawasi dengan wacana mereka sendiri: ke mana kaki
      saya langkah, saya boleh ini itu atau tidak. Begitu arah gerak saya tidak
      sejalan dengan pengetahuan mereka, saya disebut tidak konsisten."
       "Saya dengan Gus Dur dan Cak Nur sama-sama menemani Pak Harto turun
      jabatan, tapi yang dimarahi cuma saya. Bahkan ada yang menyebut saya
      kroninya Soeharto, padahal saya tidak pernah menjadi anggota MPR Orba
      seperti Gus Dur atau Cak Nur, apalagii diberi uang oleh Pak Harto untuk
      membuat rumah. Saya mengajak pak Harto ke masjid untuk bertobat dengan
      perhitungan Tuhan akan menjawab: 'Sana, minta maaf dulu kepada rakyat
      Indonesia, bereskan dulu kesalahan-kesalahanmu di pengadilan, baru kau
      pantas datang bertobat kepadaKu'. Tapi saya dituduh mericoba menghindarkan
      Pak Harto dari Pengadilan Negara. Diam-diam bangga juga bahwa ternyata
      saya ini orang hebat sehingga bisa menolong orang besar macam Pak Harto."
      "Beberapa tahun sebelumnya saya ikut Takbir Akbar di Monas di mana Pak
      Harto hadir juga. Massa menuduh saya berkhianat, sehingga sesudah itu
      kalau saya ke masjid shalat Jumat, Maghrib atau Isya, saya selidiki dulu
      apakah ada Camat atau pegawai negeri atau tentara atau polisi yang ikut
      berjamaah. Padahal di Monas itu saya merasa punya prestasi sangat besar di
      hadapan kamera teve, yakni sukses menolak bersalaman dengan Pak Harto.
      Tapi mau gimana, yang menuding-nuding saya itu kebanyakan adalah pegawai
      negeri Orde Baru, yang puluhan tahun nyusu Pak Harto."
      Tapi bukankah sesudah Pak Harto jatuh, Cak Nun malah beberapa kali ketemu
      dia? "Benar sekali", jawab Cak Nun, "Rasulullah menasehati kita agar
      menemani tiga orang. Pertama, orang berkuasa yang kemudian jatuh. Kedua
      orang terhormat yang terhina. Ketiga, orang kuat yang menjadi lemah."[]

Quoted by Redaksi from :
"Kitab Ketentraman", Emha Ainun Nadjib, Zaituna dan Republika, 2001



This is virus free email scanned by mail.nsi.co.id

[Non-text portions of this message have been removed]



YAHOO! GROUPS LINKS




Google

0 Komentar:

Post a Comment

Beranda