[kenduricinta] Ketentraman : KESENGSARAAN BATHIN BANGSA INDONESIA
Untuk BERLANGGANAN, kirim e-mail kosong ke
kenduricinta-subscribe@yahoogroups.com
Untuk BERHENTI, kirim e-mail kosong ke
kenduricinta-unsubscribe@yahoogroups.com
Jika menginginkan semua informasi yang dikirim pada suatu hari
ke dalam satu e-mail sehingga hanya akan menerima satu e-mail
saja dalam sehari (berupa rangkuman dari beberapa e-mail),
maka silakan kirim E-mail kosong ke:
kenduricinta-digest@yahoogroups.com
Jika tidak ingin menerima sebuah e-mail pun,
tetapi masih bisa membaca langsung semua informasi yang terdapat
pada mailing list di http://groups.yahoo.com/group/kenduricinta
maka silakan kirim E-mail kosong ke:
kenduricinta-nomail@yahoogroups.com
Jika ingin kembali ke Individual Email (semua email yang dikirim
ke group akan didistribusikan langsung ke Anda) maka silakan
kirim E-mail kosong ke:
kenduricinta-normal@yahoogroups.com
Informasi: kenduricinta@padhangmbulan.com
| My Groups | kenduricinta Main Page | |
KESENGSARAAN BATHIN BANGSA INDONESIA
Ketika mengawali 'upacara' doa bersama di mana ia membacakan "Doa Mencabut
Kutukan", sebagai refleksi balik dari "Doa Mohon Kutukan" lima tahun yang
lalu, Cak Nun berkata dengan sangat bersungguh-sungguh - sangat berbeda
dengan kebiasannya yang lentur dan penuh humor :
"Apakah kita adalah orang sakit yang hatinya tenteram karena tidak
mengerti penyakitnya? Ataukah kita memilih berusaha tahu penyakit-penyakit
kita, lantas kita upayakan proses penyembuhan, agar dalam jangka panjang
kita capai ketenteraman?"
"Rakyat kita, ya kita semua ini, sangat bersedih hati dan benar-benar
frustrasi berkepanjangan. Negara yang kita bela dan cintai, pemegang
kekuasaan yang kita restui dan kita upah, sampaim sejauh ini masih gagal
memenuhi amanat di pundaknya. Kita kecele berulangkali. Hidup kita tidak
aman, makan minum kita tidak menentu, karena organisasi pemerintah tidak
kunjung sanggup membangun jaminan untuk itu."
"Apakah nyawa kita tidak tiba-tiba dicabut entah oleh siapa, negara tidak
bisa memberi ketenangan kepada rakyatnya. Kalau besok siang karena suatu
soal yang sangat sepele kita tiba-tiba terlibat dalam perang brubuh, tawur
suku seperti jaman pra-sejarah, tak ada juga yang dilakukan oleh polisi
dan tentara. Kekuatan polisi tak memadai, sementara tentara duduk-duduk
saja karena kalau berdiri sedikit saja takut kena tudingan melanggar HAM.
Ekonomi makro kita hanya menambah prestasi hutang dan degradasi
kesejahteraan."
"Satu-satunya keuntungan dari semua keadaan itu adalah bahwa kita menjadi
lebih dekat kepada Tuhan. Kita menjadi malu untuk meneruskan
ketidaktergantungan kepada-Nya. Tuhan kita angkat sebagai Kepala Negara
kehidupan kita. Namun demikian kecemasan hati ini tak usai-usai juga. Yang
membuat kita kurang nyenyak tidur adalah bahwa di negera yang nasional ini
justru jumlah suku makin bertambah. Tidak hanya suku Dayak dan Madura.
Tidak hanya suku Melayu dan Jawa. Tapi sekarang ada juga suku NU, suku
Muhammadiyah, suku PKB, suku Poros Tengah, bahkan lebih terkeping-keping
lagi konstelasi kesukuan masyarakat kita".
"Penderitaan batin rakyat Indonesia sudah sedemikian rupa sehingga tidak
lagi berwajah derita. Kadar derita itu demikian mendalam, mengakar,
mengendap, sehingga hakekat penderitaan itu hampir sudah sama dan sebangun
dengan seluruh eksistensi dan kesadaran kita akan hidup."
"Ini semua bukan hanya penderitaan batin, tapi mungkin sudah lebih
mendalam menjadi kesengsaraan spiritual. Subyek penderita dalam diri kita
bukan hanya perasaan, bukan hanya hati, tapi mungkin kalbu. Kalbu itu jauh
lebih tersembunyi dan menyimpan sejumlah rahasia yang kelak hanya bersedia
dikuakkan oleh kejujuran, yang meningkat menjadi ketulusan dan memuncak
pada kesucian."
"Kesengsaraan kalbu terjadi karena salah satu dari dua hal. Pertama, Allah
menimpakan ujian, yang solusinya adalah kenyataan bahwa iman jauh lebih
kukuh dan perkasa disbanding segala jenis dan kadar penderitaan."
"Kemungkinan kedua, kesengsaraan kalbu semacam itu dibangun oleh kebodohan
kita sendiri. Tuan rumah yang sibuk mencuri di rumahnya sendiri adalah
tuan rumah yang sebodoh-bodohnya. Bapak, Ibu, anak-anak, semua penghuni
rumah, bertengkar terus, saling mengincar dan berebut giliran merusak
rumah, berebut giliran memperoleh kesempatan untuk mencurangi."
"Proses berebut giliran itu dihiasi dengan ilmu, teori, firman dan segala
sesuatu yang bisa didayagunakan untuk kepentingan masing-masing. Negara
ini kita rusak sendiri, menggunakan kebodohan yang tak habis-habisnya,
atau memakai segala jenis kepandaian untuk bodoh."
"Peta situasi batin dan kondisi sosial yang melatarbelakanginya harus
perlahan-lahan kita pahami dan kita mengerti, agar nanti bisa kita mulai
dari diri kita sendiri berkata'tidak' kepada kenyataankenyataan itu.
Semakin banyak orang yang berkata tidak , maka pagi hari akan semakin
cepat tiba. Matahari akan terbit, tetapi pada hakekatnya ia tidak pernah
terbit untuk bangsa yang buta."[]
dikutip dari buku Kitab Ketentraman Emha Ainun Nadjib, penerbit
Zaituna dan Republika, 2001[ kembali ]
PARA PASIEN MENGATUR DOKTER
"Jangan bandingkan saya dengan orang istimewa macam Gus Dur, Pak Amien
Rais, Bu Mega, Sri Suitan Hamengkubuwono X, atau para Ulama. Jangan
lakukan pelecehan semacam itu", kata Cak Nun.
"Tokoh-tokoh nasional kita menjadi panutan orang banyak karena punya bekal
ilmu dan akhlak yang baik. Perilaku mereka tertata sedemikian rupa
sehingga menjadi teladan banyak orang. Setiap ucapan dari mulut mereka
dipertimbangkan secara matang, diperhitungkan manfaat dan mudaratnya; dan
itulah yang menyebabkan mereka menjadi tokoh. Setiap langkah mereka
diamati oleh jutaan mata, dan mereka sanggup memberi kenikmatan batin dan
mengupayakan berbagai jenis kesejahteraan, sehingga mereka punya kelayakan
untuk ditokohkan."
"Sementara saya seorang pekerja biasa. Memang banyak orang mengerubungi
saya untuk keperluan pribadi atau kelompok mereka. Tetapi banyak dari
mereka yang datang untuk - sesungguhnya - menyuruh saya menuruti apa yang
mereka inginkan. Jadi bukannya saya panutan, melaiinkan saya yang sering
menganut mereka. Ibarat dokter, pasien-pasien saya datang untuk mengatur
saya. Mereka ya pendapat sendiri mengenai penyakit mereka yang diperlukan
dari saya adalah pembenaran atas pendapat itu. Bahkan seringkali mereka
sendiri yang menentukan bagaimana cara menyembuhya serta apa obat yang
harus diminumnya."
"Kalau saya mengemukakan bahwa peridapat saya berbeda, apalagi sampai saya
menyodorkan pil menurut teori saya sendiri, mereka bisa menuduh saya
'tidak bisa dianut', 'egois', bahkan 'pengkhianat'. Yang disebut 'massa'
itu yang mengatur dan mengawasi dengan wacana mereka sendiri: ke mana kaki
saya langkah, saya boleh ini itu atau tidak. Begitu arah gerak saya tidak
sejalan dengan pengetahuan mereka, saya disebut tidak konsisten."
"Saya dengan Gus Dur dan Cak Nur sama-sama menemani Pak Harto turun
jabatan, tapi yang dimarahi cuma saya. Bahkan ada yang menyebut saya
kroninya Soeharto, padahal saya tidak pernah menjadi anggota MPR Orba
seperti Gus Dur atau Cak Nur, apalagii diberi uang oleh Pak Harto untuk
membuat rumah. Saya mengajak pak Harto ke masjid untuk bertobat dengan
perhitungan Tuhan akan menjawab: 'Sana, minta maaf dulu kepada rakyat
Indonesia, bereskan dulu kesalahan-kesalahanmu di pengadilan, baru kau
pantas datang bertobat kepadaKu'. Tapi saya dituduh mericoba menghindarkan
Pak Harto dari Pengadilan Negara. Diam-diam bangga juga bahwa ternyata
saya ini orang hebat sehingga bisa menolong orang besar macam Pak Harto."
"Beberapa tahun sebelumnya saya ikut Takbir Akbar di Monas di mana Pak
Harto hadir juga. Massa menuduh saya berkhianat, sehingga sesudah itu
kalau saya ke masjid shalat Jumat, Maghrib atau Isya, saya selidiki dulu
apakah ada Camat atau pegawai negeri atau tentara atau polisi yang ikut
berjamaah. Padahal di Monas itu saya merasa punya prestasi sangat besar di
hadapan kamera teve, yakni sukses menolak bersalaman dengan Pak Harto.
Tapi mau gimana, yang menuding-nuding saya itu kebanyakan adalah pegawai
negeri Orde Baru, yang puluhan tahun nyusu Pak Harto."
Tapi bukankah sesudah Pak Harto jatuh, Cak Nun malah beberapa kali ketemu
dia? "Benar sekali", jawab Cak Nun, "Rasulullah menasehati kita agar
menemani tiga orang. Pertama, orang berkuasa yang kemudian jatuh. Kedua
orang terhormat yang terhina. Ketiga, orang kuat yang menjadi lemah."[]
Quoted by Redaksi from :
"Kitab Ketentraman", Emha Ainun Nadjib, Zaituna dan Republika, 2001
This is virus free email scanned by mail.nsi.co.id
[Non-text portions of this message have been removed]
YAHOO! GROUPS LINKS
kenduricinta-unsubscribe@yahoogroups.com

0 Komentar:
Post a Comment
Beranda