Re: [padhang-mbulan] Gardu : "Bangsa Setan-setan" dan Universalisme Lunak
Apakah ada yang dapat membaca pemikiran SANDI (terselubung) di balik makalah
dan penerbitan buku Immanuel Kant? Coba baik-baik baca dan bandingkan dengan
apa yang telah dicapai oleh rasulullah Muhammad saw dalam membidani,
menggarap dan menghasilkan Perjanjian Madinah (First Constitution of Modern
Human Society).
A.M
----- Original Message -----
From: "Milist Padhang mBulan Net" <milist@padhangmbulan.com>
To: <padhang-mbulan@yahoogroups.com>
Sent: Wednesday, October 26, 2005 2:02 AM
Subject: [padhang-mbulan] Gardu : "Bangsa Setan-setan" dan Universalisme
Lunak
"Bangsa Setan-setan" dan Universalisme Lunak
Kant tentang Politik dalam Masyarakat Majemuk
F Budi Hardiman
Lebih dari dua abad silam terbit sebuah tulisan pendek yang berpengaruh
besar dalam pemikiran politik sampai dewasa ini. Tulisan itu berjudul Zum
ewigen Frieden (1795): Menuju Perdamaian Abadi. Penulisnya adalah Immanuel
Kant (1724-1804), filsuf Aufklärung Jerman, penduduk Koenigsberg-sekarang
Kaliningrad-dari lahir sampai kematiannya.
Berbeda dari kebanyakan teks filsafat lain, tulisan Kant ini berbentuk
"perjanjian perdamaian" seperti yang dapat kita jumpai pada teks-teks
hubungan internasional pada zaman itu. Ada pembukaan, pasal-pasal
pendahuluan, pasal-pasal definitif, jaminan perjanjian, pasal rahasia,
pasal-pasal tambahan, dan lampiran. Dalam buku kecil itu filsuf yang
termasyhur dengan Kritik der reinen Vernunft (Kritik atas Nalar Murni) ini
merumuskan filsafatnya tentang hubungan antara politik, alam, dan moral.
Dalam ulasan ini saya ingin memusatkan perhatian pada sebuah tesis yang
ditulisnya dalam pasal tambahan buku itu. "Masalah pendirian
negara,"demikian tulis Kant, ".dapat dipecahkan bahkan oleh suatu bangsa
setan-setan (asalkan mereka memiliki akal)". Apakah maksud kalimat aneh ini?
Bayangkanlah the founding fathers sebuah republik sebagai setan-setan
jahanam yang serba egois bertekad bersama mendirikan negara. Rakyatnya juga
setan-setan. Dan, Kant yakin: negara itu bisa berdiri. Sebuah tesis yang
ganjil, bukan? Besar rasa ingin tahu kita mengetahui asas-asas mana yang
kiranya akan diambil oleh makhluk-makhluk egois itu.
Di sini saya ingin merumuskan asas-asas itu dan berargumen bahwa asas-asas
itu-yang bisa kita sebut "universalisme keras"-bermanfaat untuk mengatur
hubungan sosial politis dalam masyarakat majemuk seperti masyarakat kita,
tetapi asas-asas itu tidak memadai dan harus dilengkapi dengan
"universalisme lunak".
Politik dan alam
Asas pertama dapat dirumuskan demikian: Susunlah konstitusi negara yang
netral dari agama dan moral sehingga tidak menjerumuskan rakyat pada konflik
moral ataupun agama, melainkan memperhitungkan bagaimana "mekanisme alam"
mengatur hubungan antarindividu. Setan-setan jelas tak bermoral, tetapi
setan-setan Kantian bukan serigala-serigala yang melulu naluriah, melainkan
egois-egois yang berpikir rasional-strategis. Frase dalam tanda kurung "asal
mereka memiliki akal" sangat sentral. Jadi, mereka akan menyingkirkan segala
nilai moral ataupun religius yang kontroversial agar mereka dapat menjamin
kepentingan privat mereka dengan suatu konsensus rasional untuk tidak
mengintervensi privasi masing-masing. Jika negara itu berdiri, ia akan
melindungi setiap setan individual untuk menjalankan kebebasan privatnya
masing-masing. Hukum mereka berlaku untuk semua setan dan diterima oleh
segala setan bukan karena "seharusnya", melainkan karena "nyatanya" cocok
dengan kepentingan mereka. Hukum itu suatu "universalisme keras".
Sekarang marilah beralih sejenak ke sesuatu yang bukan setan: suatu bangsa
manusia-manusia yang terdiri atas puluhan etnisitas, memeluk berbagai agama
dunia dan puluhan agama suku yang berbeda-beda, memiliki orientasi moral dan
politis yang berlain-lainan seperti Islam, Kristen, Sosialis, dan Liberal,
yang masing-masing dengan banyak aliran atau sektenya. Tentu manusia berbeda
dari setan Kantian itu. Manusia bermoral, beragama, dan berbudaya! Namun,
persis inilah yang membuat mereka sulit sekali bersepakat untuk sebuah
konstitusi negara yang mengatur masyarakat majemuk itu. Masing-masing
kelompok mendakukan kebenaran absolut agama, moralitas, atau kulturnya.
Mereka berpikir bahwa perdamaian dapat dicapai dengan mengkhotbahi para
warga negara. Namun, khotbah atau nasihat moral tidak juga mengubah
kebandelan mereka. Tegangan pun terjadi di antara mayoritas dan minoritas.
Pluralisme dianggap menguntungkan minoritas, maka mayoritas menerapkan
doktrin puritan untuk memberangus segala penyimpangan. Konflik agama dan
etnis pun meletus di antara mereka.
Perbedaan bangsa manusia dan setan-setan Kantian itu jelas: setan Kantian
hanya memiliki rasionalitas strategis, sedangkan manusia selain memiliki
rasionalitas strategis, juga memunyai moralitas dan religiositas. Namun,
mengapa manusia terus bertengkar dan mengapa setan-setan bisa bersepakat?
Karena setan-setan itu lebih pragmatis daripada manusia. Daripada bertengkar
berlarut-larut soal agama, kebudayaan dan moralitas, dan mendirikan
konstitusi atas dasar nilai-nilai kontroversial itu, adalah lebih
menguntungkan survival mereka jika membangun konstitusi negara yang
menerapkan "mekanisme alamiah" ke dalam masyarakat mereka. Jadi, daripada
memberi nasihat-nasihat moral atau khotbah-khotbah religius, adalah lebih
baik menerapkan suatu sistem hukum dan manajerial pemerintahan yang memaksa
mereka menghormati kebebasan orang lain, bukan karena alasan moral atau
agama, melainkan karena alasan pragmatis, yakni demi kebebasannya sendiri.
Asumsi Kant: struktur-struktur yang "fair" yang menata hubungan para warga
negara akan membantu mereka menghendaki perdamaian sebagai sesuatu yang
rasional (strategis).
Politik dan moral
Asas kedua berbunyi begini: Pimpinlah negara tanpa memaksakan kebenaran
salah satu agama atau moralitas rakyatmu sebagai alasan kekuasaanmu,
melainkan setialah kepada konstitusi kebebasan itu. "Bangsa setan-setan"
memang tak bermoral, tetapi mereka punya alasan rasional untuk patuh pada
konstitusi sebagai "moral" mereka, yakni demi survival. Kita bedakan dua
moral di sini: [1] moral partikular yang terkait dengan kelompok sosial dan
[2] moral universal yang mendasari konstitusi. Karena kebutuhan survival itu
universal, setan tak mengalami dualisme loyalitas. Sebaliknya, bangsa
manusia-manusia mengalami dualisme antara setia pada agama atau konstitusi,
pada moral partikular atau moral negara sehingga hubungan antara politik dan
moral menjadi problematis dalam leadership negara manusia.
Pemimpin manusia bisa menyalahgunakan moral partikular untuk kepentingan
kekuasaannya. Pemimpin Machiavellian semacam itu disebut Kant "moralis
politis". Jika negara mau damai, pemimpin tidak hanya sekadar konsekuen
dengan konstitusi kebebasan, melainkan juga terbuka untuk merevisi
konstitusi itu agar makin sesuai dengan moral universal. Pemimpin yang
berperan sebagai "kritikus ideologi" ini disebut Kant politikus moral.
Untuk "bangsa setan-setan" tentu hubungan antara moral dan politik bukanlah
masalah karena mereka tak bermoral, dan bagi mereka politik adalah upaya
menemukan "mekanisme alam" dalam masyarakat dengan "rasionalitas strategis".
Dengan kata lain, politik dimengerti seperti ekonomi pasar yang tunduk pada
invisible hands ala Adam Smith. Namun, bangsa manusia-manusia akan cenderung
melibatkan moralitas mereka dalam politik. Justru di sini letak bahayanya:
sementara setan Kantian bersikap netral terhadap agama dan moral-moral
partikular, pemimpin bangsa manusia lebih condong menjadi "moralis politis"
daripada "politikus moralis". Agama dan moralitas dipakai sebagai alat
politis untuk menciptakan "antinomi kawan dan lawan" (dalam pengertian C
Schmitt). Ia akan memoralisasi dan meng-agama-kan segala aspek kehidupan
rakyatnya, tapi dari agama dan moral sebagaimana ia pahami. Konsekuensi
logisnya, tak ada moral lain selain politiknya sendiri sebab politik tak
lain daripada realisasi "jalan keselamatan" menurut sudut pandang penguasa.
Kediktatoran dalam arti Kantian adalah pemaksaan moral atau agama salah satu
kelompok masyarakat atas seluruh masyarakat.
Dalam pandangan Kant, setan-setan yang hanya memiliki akal itu akan lebih
mampu menciptakan perdamaian daripada manusia-manusia saleh yang tidak
menggunakan akal mereka. Maka itu, berfaedahlah belajar dari setan-setan
Kantian itu. Negara tidak berwenang melakukan "perbaikan moral manusia"
karena kebijakan itu akan memecah belah sebuah masyarakat modern yang plural
dalam kategori-kategori agama, moral, ataupun kebudayaan. Tugas negara
adalah "menemukan cara bagaimana mekanisme alamiah dapat diterapkan pada
manusia sedemikian rupa sehingga antagonisme sikap-sikap keji mereka akan
membuat mereka saling memaksa tunduk pada hukum yang memaksa dan dengan
jalan itu menghasilkan sebuah keadaan damai untuk memberlakukan hukum".
Hukum itu sendiri harus menjamin kebebasan privat warga negara menganut
pandangan moral dan religius yang berbeda-beda, tapi akan memberi sanksi
pada mereka yang melanggar hak dan kebebasan privat orang atau kelompok
lain.
Kepublikan
Asas ketiga dapat dirumuskan demikian: Periksalah terus kesesuaian
konstitusi kebebasan itu dengan aspirasi publik di bawah tatapan mata
publik. Dalam egoisme mereka, setan-setan Kantian itu berpikir bahwa jika
mereka merugikan kebebasan pihak lain, misalnya dengan diam-diam
merencanakan serangan, pihak lain itu akan membalas dengan cara dusta dan
rahasia juga. Maka itu, demi kepentingan diri mereka, mereka akan bersikap
transparan tentang kepentingan-kepentingan diri mereka. "Kepublikan" berarti
dapat diakses oleh publik. Mereka akan menyatakan kepentingan mereka lewat
cara-cara yang terbuka terhadap kontrol publik. Kalau demikian, hukum dan
konstitusi itu sendiri mencerminkan nalar publik sedemikian rupa sehingga
setiap pasal konstitusi atau hukum mencerminkan aspirasi universal publik.
"Semua tindakan yang berhubungan dengan hak orang-orang lain yang maksimnya
tidak sesuai dengan kepublikan,"demikian Kant, "adalah tidak sah". Jadi,
suatu undang-undang yang mencerminkan kepentingan kelompok atau aliran
tertentu dan tidak mencerminkan kepentingan publik tidaklah legitim.
Setan yang memikirkan kepublikan tampaknya akan kehilangan watak sataninya
karena memikirkan orang lain. Padahal, ciri setan adalah menyembunyikan
diri. Kesan itu keliru. Mereka tetap egois dan, dalam egoisme mereka, mereka
memikirkan ciri egois pihak lain untuk melindungi diri mereka sendiri dari
ancaman. Iktikad-iktikad mereka tetap jahat dan tak terduga, tapi "perilaku
publik" mereka akan sama "seolah-olah mereka tidak memiliki sikap-sikap
jahat itu". Jadi, mereka tetap setan, tapi setan yang rasional- strategis!
Jelas bahwa metafora "bangsa setan-setan" ini dipakai oleh Kant untuk
menjelaskan hubungan-hubungan sosio-politis bukan dalam kota kecil seperti
Koenigsberg, melainkan dalam metropolis modern yang kompleks seperti Paris,
New York, Jakarta di abad kita.
Universalisme keras dan lunak
Di sini kita harus membedakan dua macam universalisme. "Universalisme lunak"
tentang nilai-nilai moral dan religius tentu berbeda dari "universalisme
keras" hukum-hukum alam dan kalkulasi rasional-strategis sebagaimana tampak
dalam ketiga asas Kantian di atas. Suatu universalisme kita sebut "lunak"
jika konsensus menyangkut nilai-nilai yang melibatkan hermeneutik makna
dalam sebuah diskursus praktis moral. Suatu universalisme kita sebut "keras"
jika ia-seperti hukum gravitasi dan kalkulasi ekonomis- self-evidence.
Negara yang didirikan atas dasar "mekanisme alam" mungkin saja akan
menyatukan semua individu yang berpikiran strategis dalam "universalisme
keras", tapi negara macam itu hanyalah sebuah "sistem" tindakan-tindakan
rasional: bertujuan sebagaimana tampak dalam "pasar" dan "birokrasi".
Padahal, "masyarakat" adalah sesuatu yang "lebih" daripada "sistem".
Masyarakat adalah suatu Lebenswelt (dunia-kehidupan) yang melibatkan
penghayatan nilai-nilai moral, kultural, dan religius. Setan-setan Kantian
hanya menghasilkan "sistem" atau mekanisme obyektif yang mengatur semua
individu tanpa pandang bulu. Negara macam itu mungkin memuaskan setan
Kantian (yang lebih mirip robot daripada iblis) ini, tapi tak akan memuaskan
manusia.
Untuk negara manusia, dibutuhkan juga "universalisme lunak". Manusia adalah
makhluk moral dan religius, maka ia tak hanya memberi arti teknis-pragmatis
pada benda-benda dan tindakannya, melainkan juga arti praktis-moral. The
founding fathers dan para legislator hukum masyarakat majemuk harus bisa
sepakat tidak hanya mengenai "sistem" manajemen republik, melainkan juga
"dasar-dasar moral universal kemanusiaan" yang membangun solidaritas
universal manusia dari berbagai agama, suku, ras, dan orientasi politis
dalam negara itu.
"Universalisme keras" yang diandaikan oleh liberalisme Kant harus
dilanjutkan dengan "universalisme lunak". Suatu konstitusi negara akan
memuaskan manusia sebagai makhluk moral dan religius jika nilai-nilai moral
dan agamanya juga diperhitungkan di dalam kehidupan publik. Namun,
nilai-nilai itu harus diuji dulu lewat asas kepublikan, yakni apakah
nilai-nilai itu, misalnya dari agama atau suku tertentu, dapat diterima oleh
pihak-pihak lain secara universal dan tanpa paksaan.
Untuk itu, setiap kelompok dari tradisinya sendiri harus menggali dan
menumbuhkan konsep "hospitalitas" sebagaimana diulas Kant dalam bukunya.
Hospitalitas berarti sikap menyambut yang lain dalam keberlainannya, sikap
terbuka terhadap pluralisme nilai-nilai. Hospitalitas terkandung dalam
setiap tradisi religius dan berkaitan dengan nilai-nilai universal hak-hak
asasi manusia. "Universalisme lunak" tak lain daripada interseksi
nilai-nilai agama-agama yang berbeda-beda dalam horizon kemanusiaan dalam
keberagamannya. Titik persilangan itu terdapat dalam visi dalam setiap agama
yang menyambut pihak-pihak yang berbeda dari dirinya dalam semangat
keterbukaan.
Ketiga asas yang kita rumuskan di atas 1. pragmatisme kepentingan alamiah;
2. kepemimpinan yang netral dari pandangan-pandangan religius dan moral; dan
3. kepublikan harus dilengkapi dengan asas ke-4 yang merupakan perluasan
dari kepublikan, yaitu: Konstitusi negara harus memungkinkan
saling-pemahaman antaragama dan memberi ruang untuk titik-titik temu
nilai-nilai agama dan moral yang berbeda-beda karena saling pemahaman akan
nilai-nilai universal bersama itu juga merupakan "aspirasi publik" dalam
masyarakat majemuk.
Dengan "bangsa setan-setan" itu Kant ingin menarik perhatian kita bahwa
sebuah konsensus minimal itu mungkin jika para individu dalam masyarakat
majemuk berpikir rasional-strategis. Mekanisme bisnis dan pasar dan
birokrasi konsisten yang beroperasi efisien memang akan membuat orang lupa
akan perbedaan Weltanschauungen di antara mereka, tetapi tidak akan membuat
mereka "saling memahami" secara kultural. Lagi pula, negara terdiri tidak
hanya atas pasar dan birokrasi, melainkan juga masyarakat dan kebudayaan.
Karena itu, perdamaian di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat majemuk
tidak dapat dicapai jika tidak memperhitungkan perdamaian di antara
agama-agama mereka. Negara manusia akan damai jika birokrasi, pasar, dan
saling pengertian antaragama berada dalam porsi kekuatan yang seimbang.
Dr F BUDI HARDIMAN Kepala Pusat Penelitian STF Driyarkara, Koordinator
Simposium Kant, 17-18 Desember 2004 di Bentara Budaya Jakarta
* Tulisan ini merupakan makalah peluncuran buku Kant Menuju Perdamaian Abadi
di Goethe Haus, Jakarta, 27 Agustus 2005
fwd by redaksi from KOMPAS, Sabtu, 01 Oktober 2005
This is virus free email scanned by mail.nsi.co.id
[Non-text portions of this message have been removed]
Padhang mBulan Net - Padhang mBulan mailing list
* Untuk BERLANGGANAN, kirim e-mail kosong ke :
padhang-mbulan-subscribe@yahoogroups.com
* Untuk BERHENTI, kirim e-mail kosong ke :
padhang-mbulan-unsubscribe@yahoogroups.com
* rangkuman dari beberapa e-mail :
padhang-mbulan-digest@yahoogroups.com
* tidak ingin menerima sebuah e-mail pun :
padhang-mbulan-nomail@yahoogroups.com
* Individual Email :
padhang-mbulan-normal@yahoogroups.com
Informasi: padhang-mbulan-owner@yahoogroups.com
Yahoo! Groups Links
Padhang mBulan Net - Padhang mBulan mailing list
* Untuk BERLANGGANAN, kirim e-mail kosong ke :
padhang-mbulan-subscribe@yahoogroups.com
* Untuk BERHENTI, kirim e-mail kosong ke :
padhang-mbulan-unsubscribe@yahoogroups.com
* rangkuman dari beberapa e-mail :
padhang-mbulan-digest@yahoogroups.com
* tidak ingin menerima sebuah e-mail pun :
padhang-mbulan-nomail@yahoogroups.com
* Individual Email :
padhang-mbulan-normal@yahoogroups.com
Informasi: padhang-mbulan-owner@yahoogroups.com
YAHOO! GROUPS LINKS
dan penerbitan buku Immanuel Kant? Coba baik-baik baca dan bandingkan dengan
apa yang telah dicapai oleh rasulullah Muhammad saw dalam membidani,
menggarap dan menghasilkan Perjanjian Madinah (First Constitution of Modern
Human Society).
A.M
----- Original Message -----
From: "Milist Padhang mBulan Net" <milist@padhangmbulan.com>
To: <padhang-mbulan@yahoogroups.com>
Sent: Wednesday, October 26, 2005 2:02 AM
Subject: [padhang-mbulan] Gardu : "Bangsa Setan-setan" dan Universalisme
Lunak
"Bangsa Setan-setan" dan Universalisme Lunak
Kant tentang Politik dalam Masyarakat Majemuk
F Budi Hardiman
Lebih dari dua abad silam terbit sebuah tulisan pendek yang berpengaruh
besar dalam pemikiran politik sampai dewasa ini. Tulisan itu berjudul Zum
ewigen Frieden (1795): Menuju Perdamaian Abadi. Penulisnya adalah Immanuel
Kant (1724-1804), filsuf Aufklärung Jerman, penduduk Koenigsberg-sekarang
Kaliningrad-dari lahir sampai kematiannya.
Berbeda dari kebanyakan teks filsafat lain, tulisan Kant ini berbentuk
"perjanjian perdamaian" seperti yang dapat kita jumpai pada teks-teks
hubungan internasional pada zaman itu. Ada pembukaan, pasal-pasal
pendahuluan, pasal-pasal definitif, jaminan perjanjian, pasal rahasia,
pasal-pasal tambahan, dan lampiran. Dalam buku kecil itu filsuf yang
termasyhur dengan Kritik der reinen Vernunft (Kritik atas Nalar Murni) ini
merumuskan filsafatnya tentang hubungan antara politik, alam, dan moral.
Dalam ulasan ini saya ingin memusatkan perhatian pada sebuah tesis yang
ditulisnya dalam pasal tambahan buku itu. "Masalah pendirian
negara,"demikian tulis Kant, ".dapat dipecahkan bahkan oleh suatu bangsa
setan-setan (asalkan mereka memiliki akal)". Apakah maksud kalimat aneh ini?
Bayangkanlah the founding fathers sebuah republik sebagai setan-setan
jahanam yang serba egois bertekad bersama mendirikan negara. Rakyatnya juga
setan-setan. Dan, Kant yakin: negara itu bisa berdiri. Sebuah tesis yang
ganjil, bukan? Besar rasa ingin tahu kita mengetahui asas-asas mana yang
kiranya akan diambil oleh makhluk-makhluk egois itu.
Di sini saya ingin merumuskan asas-asas itu dan berargumen bahwa asas-asas
itu-yang bisa kita sebut "universalisme keras"-bermanfaat untuk mengatur
hubungan sosial politis dalam masyarakat majemuk seperti masyarakat kita,
tetapi asas-asas itu tidak memadai dan harus dilengkapi dengan
"universalisme lunak".
Politik dan alam
Asas pertama dapat dirumuskan demikian: Susunlah konstitusi negara yang
netral dari agama dan moral sehingga tidak menjerumuskan rakyat pada konflik
moral ataupun agama, melainkan memperhitungkan bagaimana "mekanisme alam"
mengatur hubungan antarindividu. Setan-setan jelas tak bermoral, tetapi
setan-setan Kantian bukan serigala-serigala yang melulu naluriah, melainkan
egois-egois yang berpikir rasional-strategis. Frase dalam tanda kurung "asal
mereka memiliki akal" sangat sentral. Jadi, mereka akan menyingkirkan segala
nilai moral ataupun religius yang kontroversial agar mereka dapat menjamin
kepentingan privat mereka dengan suatu konsensus rasional untuk tidak
mengintervensi privasi masing-masing. Jika negara itu berdiri, ia akan
melindungi setiap setan individual untuk menjalankan kebebasan privatnya
masing-masing. Hukum mereka berlaku untuk semua setan dan diterima oleh
segala setan bukan karena "seharusnya", melainkan karena "nyatanya" cocok
dengan kepentingan mereka. Hukum itu suatu "universalisme keras".
Sekarang marilah beralih sejenak ke sesuatu yang bukan setan: suatu bangsa
manusia-manusia yang terdiri atas puluhan etnisitas, memeluk berbagai agama
dunia dan puluhan agama suku yang berbeda-beda, memiliki orientasi moral dan
politis yang berlain-lainan seperti Islam, Kristen, Sosialis, dan Liberal,
yang masing-masing dengan banyak aliran atau sektenya. Tentu manusia berbeda
dari setan Kantian itu. Manusia bermoral, beragama, dan berbudaya! Namun,
persis inilah yang membuat mereka sulit sekali bersepakat untuk sebuah
konstitusi negara yang mengatur masyarakat majemuk itu. Masing-masing
kelompok mendakukan kebenaran absolut agama, moralitas, atau kulturnya.
Mereka berpikir bahwa perdamaian dapat dicapai dengan mengkhotbahi para
warga negara. Namun, khotbah atau nasihat moral tidak juga mengubah
kebandelan mereka. Tegangan pun terjadi di antara mayoritas dan minoritas.
Pluralisme dianggap menguntungkan minoritas, maka mayoritas menerapkan
doktrin puritan untuk memberangus segala penyimpangan. Konflik agama dan
etnis pun meletus di antara mereka.
Perbedaan bangsa manusia dan setan-setan Kantian itu jelas: setan Kantian
hanya memiliki rasionalitas strategis, sedangkan manusia selain memiliki
rasionalitas strategis, juga memunyai moralitas dan religiositas. Namun,
mengapa manusia terus bertengkar dan mengapa setan-setan bisa bersepakat?
Karena setan-setan itu lebih pragmatis daripada manusia. Daripada bertengkar
berlarut-larut soal agama, kebudayaan dan moralitas, dan mendirikan
konstitusi atas dasar nilai-nilai kontroversial itu, adalah lebih
menguntungkan survival mereka jika membangun konstitusi negara yang
menerapkan "mekanisme alamiah" ke dalam masyarakat mereka. Jadi, daripada
memberi nasihat-nasihat moral atau khotbah-khotbah religius, adalah lebih
baik menerapkan suatu sistem hukum dan manajerial pemerintahan yang memaksa
mereka menghormati kebebasan orang lain, bukan karena alasan moral atau
agama, melainkan karena alasan pragmatis, yakni demi kebebasannya sendiri.
Asumsi Kant: struktur-struktur yang "fair" yang menata hubungan para warga
negara akan membantu mereka menghendaki perdamaian sebagai sesuatu yang
rasional (strategis).
Politik dan moral
Asas kedua berbunyi begini: Pimpinlah negara tanpa memaksakan kebenaran
salah satu agama atau moralitas rakyatmu sebagai alasan kekuasaanmu,
melainkan setialah kepada konstitusi kebebasan itu. "Bangsa setan-setan"
memang tak bermoral, tetapi mereka punya alasan rasional untuk patuh pada
konstitusi sebagai "moral" mereka, yakni demi survival. Kita bedakan dua
moral di sini: [1] moral partikular yang terkait dengan kelompok sosial dan
[2] moral universal yang mendasari konstitusi. Karena kebutuhan survival itu
universal, setan tak mengalami dualisme loyalitas. Sebaliknya, bangsa
manusia-manusia mengalami dualisme antara setia pada agama atau konstitusi,
pada moral partikular atau moral negara sehingga hubungan antara politik dan
moral menjadi problematis dalam leadership negara manusia.
Pemimpin manusia bisa menyalahgunakan moral partikular untuk kepentingan
kekuasaannya. Pemimpin Machiavellian semacam itu disebut Kant "moralis
politis". Jika negara mau damai, pemimpin tidak hanya sekadar konsekuen
dengan konstitusi kebebasan, melainkan juga terbuka untuk merevisi
konstitusi itu agar makin sesuai dengan moral universal. Pemimpin yang
berperan sebagai "kritikus ideologi" ini disebut Kant politikus moral.
Untuk "bangsa setan-setan" tentu hubungan antara moral dan politik bukanlah
masalah karena mereka tak bermoral, dan bagi mereka politik adalah upaya
menemukan "mekanisme alam" dalam masyarakat dengan "rasionalitas strategis".
Dengan kata lain, politik dimengerti seperti ekonomi pasar yang tunduk pada
invisible hands ala Adam Smith. Namun, bangsa manusia-manusia akan cenderung
melibatkan moralitas mereka dalam politik. Justru di sini letak bahayanya:
sementara setan Kantian bersikap netral terhadap agama dan moral-moral
partikular, pemimpin bangsa manusia lebih condong menjadi "moralis politis"
daripada "politikus moralis". Agama dan moralitas dipakai sebagai alat
politis untuk menciptakan "antinomi kawan dan lawan" (dalam pengertian C
Schmitt). Ia akan memoralisasi dan meng-agama-kan segala aspek kehidupan
rakyatnya, tapi dari agama dan moral sebagaimana ia pahami. Konsekuensi
logisnya, tak ada moral lain selain politiknya sendiri sebab politik tak
lain daripada realisasi "jalan keselamatan" menurut sudut pandang penguasa.
Kediktatoran dalam arti Kantian adalah pemaksaan moral atau agama salah satu
kelompok masyarakat atas seluruh masyarakat.
Dalam pandangan Kant, setan-setan yang hanya memiliki akal itu akan lebih
mampu menciptakan perdamaian daripada manusia-manusia saleh yang tidak
menggunakan akal mereka. Maka itu, berfaedahlah belajar dari setan-setan
Kantian itu. Negara tidak berwenang melakukan "perbaikan moral manusia"
karena kebijakan itu akan memecah belah sebuah masyarakat modern yang plural
dalam kategori-kategori agama, moral, ataupun kebudayaan. Tugas negara
adalah "menemukan cara bagaimana mekanisme alamiah dapat diterapkan pada
manusia sedemikian rupa sehingga antagonisme sikap-sikap keji mereka akan
membuat mereka saling memaksa tunduk pada hukum yang memaksa dan dengan
jalan itu menghasilkan sebuah keadaan damai untuk memberlakukan hukum".
Hukum itu sendiri harus menjamin kebebasan privat warga negara menganut
pandangan moral dan religius yang berbeda-beda, tapi akan memberi sanksi
pada mereka yang melanggar hak dan kebebasan privat orang atau kelompok
lain.
Kepublikan
Asas ketiga dapat dirumuskan demikian: Periksalah terus kesesuaian
konstitusi kebebasan itu dengan aspirasi publik di bawah tatapan mata
publik. Dalam egoisme mereka, setan-setan Kantian itu berpikir bahwa jika
mereka merugikan kebebasan pihak lain, misalnya dengan diam-diam
merencanakan serangan, pihak lain itu akan membalas dengan cara dusta dan
rahasia juga. Maka itu, demi kepentingan diri mereka, mereka akan bersikap
transparan tentang kepentingan-kepentingan diri mereka. "Kepublikan" berarti
dapat diakses oleh publik. Mereka akan menyatakan kepentingan mereka lewat
cara-cara yang terbuka terhadap kontrol publik. Kalau demikian, hukum dan
konstitusi itu sendiri mencerminkan nalar publik sedemikian rupa sehingga
setiap pasal konstitusi atau hukum mencerminkan aspirasi universal publik.
"Semua tindakan yang berhubungan dengan hak orang-orang lain yang maksimnya
tidak sesuai dengan kepublikan,"demikian Kant, "adalah tidak sah". Jadi,
suatu undang-undang yang mencerminkan kepentingan kelompok atau aliran
tertentu dan tidak mencerminkan kepentingan publik tidaklah legitim.
Setan yang memikirkan kepublikan tampaknya akan kehilangan watak sataninya
karena memikirkan orang lain. Padahal, ciri setan adalah menyembunyikan
diri. Kesan itu keliru. Mereka tetap egois dan, dalam egoisme mereka, mereka
memikirkan ciri egois pihak lain untuk melindungi diri mereka sendiri dari
ancaman. Iktikad-iktikad mereka tetap jahat dan tak terduga, tapi "perilaku
publik" mereka akan sama "seolah-olah mereka tidak memiliki sikap-sikap
jahat itu". Jadi, mereka tetap setan, tapi setan yang rasional- strategis!
Jelas bahwa metafora "bangsa setan-setan" ini dipakai oleh Kant untuk
menjelaskan hubungan-hubungan sosio-politis bukan dalam kota kecil seperti
Koenigsberg, melainkan dalam metropolis modern yang kompleks seperti Paris,
New York, Jakarta di abad kita.
Universalisme keras dan lunak
Di sini kita harus membedakan dua macam universalisme. "Universalisme lunak"
tentang nilai-nilai moral dan religius tentu berbeda dari "universalisme
keras" hukum-hukum alam dan kalkulasi rasional-strategis sebagaimana tampak
dalam ketiga asas Kantian di atas. Suatu universalisme kita sebut "lunak"
jika konsensus menyangkut nilai-nilai yang melibatkan hermeneutik makna
dalam sebuah diskursus praktis moral. Suatu universalisme kita sebut "keras"
jika ia-seperti hukum gravitasi dan kalkulasi ekonomis- self-evidence.
Negara yang didirikan atas dasar "mekanisme alam" mungkin saja akan
menyatukan semua individu yang berpikiran strategis dalam "universalisme
keras", tapi negara macam itu hanyalah sebuah "sistem" tindakan-tindakan
rasional: bertujuan sebagaimana tampak dalam "pasar" dan "birokrasi".
Padahal, "masyarakat" adalah sesuatu yang "lebih" daripada "sistem".
Masyarakat adalah suatu Lebenswelt (dunia-kehidupan) yang melibatkan
penghayatan nilai-nilai moral, kultural, dan religius. Setan-setan Kantian
hanya menghasilkan "sistem" atau mekanisme obyektif yang mengatur semua
individu tanpa pandang bulu. Negara macam itu mungkin memuaskan setan
Kantian (yang lebih mirip robot daripada iblis) ini, tapi tak akan memuaskan
manusia.
Untuk negara manusia, dibutuhkan juga "universalisme lunak". Manusia adalah
makhluk moral dan religius, maka ia tak hanya memberi arti teknis-pragmatis
pada benda-benda dan tindakannya, melainkan juga arti praktis-moral. The
founding fathers dan para legislator hukum masyarakat majemuk harus bisa
sepakat tidak hanya mengenai "sistem" manajemen republik, melainkan juga
"dasar-dasar moral universal kemanusiaan" yang membangun solidaritas
universal manusia dari berbagai agama, suku, ras, dan orientasi politis
dalam negara itu.
"Universalisme keras" yang diandaikan oleh liberalisme Kant harus
dilanjutkan dengan "universalisme lunak". Suatu konstitusi negara akan
memuaskan manusia sebagai makhluk moral dan religius jika nilai-nilai moral
dan agamanya juga diperhitungkan di dalam kehidupan publik. Namun,
nilai-nilai itu harus diuji dulu lewat asas kepublikan, yakni apakah
nilai-nilai itu, misalnya dari agama atau suku tertentu, dapat diterima oleh
pihak-pihak lain secara universal dan tanpa paksaan.
Untuk itu, setiap kelompok dari tradisinya sendiri harus menggali dan
menumbuhkan konsep "hospitalitas" sebagaimana diulas Kant dalam bukunya.
Hospitalitas berarti sikap menyambut yang lain dalam keberlainannya, sikap
terbuka terhadap pluralisme nilai-nilai. Hospitalitas terkandung dalam
setiap tradisi religius dan berkaitan dengan nilai-nilai universal hak-hak
asasi manusia. "Universalisme lunak" tak lain daripada interseksi
nilai-nilai agama-agama yang berbeda-beda dalam horizon kemanusiaan dalam
keberagamannya. Titik persilangan itu terdapat dalam visi dalam setiap agama
yang menyambut pihak-pihak yang berbeda dari dirinya dalam semangat
keterbukaan.
Ketiga asas yang kita rumuskan di atas 1. pragmatisme kepentingan alamiah;
2. kepemimpinan yang netral dari pandangan-pandangan religius dan moral; dan
3. kepublikan harus dilengkapi dengan asas ke-4 yang merupakan perluasan
dari kepublikan, yaitu: Konstitusi negara harus memungkinkan
saling-pemahaman antaragama dan memberi ruang untuk titik-titik temu
nilai-nilai agama dan moral yang berbeda-beda karena saling pemahaman akan
nilai-nilai universal bersama itu juga merupakan "aspirasi publik" dalam
masyarakat majemuk.
Dengan "bangsa setan-setan" itu Kant ingin menarik perhatian kita bahwa
sebuah konsensus minimal itu mungkin jika para individu dalam masyarakat
majemuk berpikir rasional-strategis. Mekanisme bisnis dan pasar dan
birokrasi konsisten yang beroperasi efisien memang akan membuat orang lupa
akan perbedaan Weltanschauungen di antara mereka, tetapi tidak akan membuat
mereka "saling memahami" secara kultural. Lagi pula, negara terdiri tidak
hanya atas pasar dan birokrasi, melainkan juga masyarakat dan kebudayaan.
Karena itu, perdamaian di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat majemuk
tidak dapat dicapai jika tidak memperhitungkan perdamaian di antara
agama-agama mereka. Negara manusia akan damai jika birokrasi, pasar, dan
saling pengertian antaragama berada dalam porsi kekuatan yang seimbang.
Dr F BUDI HARDIMAN Kepala Pusat Penelitian STF Driyarkara, Koordinator
Simposium Kant, 17-18 Desember 2004 di Bentara Budaya Jakarta
* Tulisan ini merupakan makalah peluncuran buku Kant Menuju Perdamaian Abadi
di Goethe Haus, Jakarta, 27 Agustus 2005
fwd by redaksi from KOMPAS, Sabtu, 01 Oktober 2005
This is virus free email scanned by mail.nsi.co.id
[Non-text portions of this message have been removed]
Padhang mBulan Net - Padhang mBulan mailing list
* Untuk BERLANGGANAN, kirim e-mail kosong ke :
padhang-mbulan-subscribe@yahoogroups.com
* Untuk BERHENTI, kirim e-mail kosong ke :
padhang-mbulan-unsubscribe@yahoogroups.com
* rangkuman dari beberapa e-mail :
padhang-mbulan-digest@yahoogroups.com
* tidak ingin menerima sebuah e-mail pun :
padhang-mbulan-nomail@yahoogroups.com
* Individual Email :
padhang-mbulan-normal@yahoogroups.com
Informasi: padhang-mbulan-owner@yahoogroups.com
Yahoo! Groups Links
Padhang mBulan Net - Padhang mBulan mailing list
* Untuk BERLANGGANAN, kirim e-mail kosong ke :
padhang-mbulan-subscribe@yahoogroups.com
* Untuk BERHENTI, kirim e-mail kosong ke :
padhang-mbulan-unsubscribe@yahoogroups.com
* rangkuman dari beberapa e-mail :
padhang-mbulan-digest@yahoogroups.com
* tidak ingin menerima sebuah e-mail pun :
padhang-mbulan-nomail@yahoogroups.com
* Individual Email :
padhang-mbulan-normal@yahoogroups.com
Informasi: padhang-mbulan-owner@yahoogroups.com
SPONSORED LINKS
| Corporate culture | Organizational culture | Indonesia |
| Culture change | Cell culture | Organization culture |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "padhang-mbulan" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
padhang-mbulan-unsubscribe@yahoogroups.com
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

0 Komentar:
Post a Comment
Beranda